Dahulu kala menurut cerita orang - orang tua kita, Desa Dukuhsari dulunya masih merupakan hutan belantara dan rawa-rawa yang tak berpenghuni sama sekali, hanya hewan buas yang liar seperti ular, babi hutan, monyet dan lain sebagainya, dan lagi daerah tersebut juga dipercaya banyak mahluk halus (jin) yang menambah suasana angker / wingit di sana sini sehingga tidak ada manusia satupun yang berani datang di daerah tersebut.
Namun suatu ketika ada seorang punggawa dari Kerajaan Majapahit yang kebetulan seorang Demang yang mengembara dan singgah di daerah yang masih sepi tidak ada penghuninya itu. Setelah upaya lahir maupun batin mencari petunjuk. Sepertinya daerah itu ada kecocokan bagi sang Demang dan para pengikutnya untuk dijadikan daerah untuk menetap di situ. Akhirnya Demang memulai pekerjaan menebang hutan belantara tersebut dengan mengerahkan kekuatan tenaga guna membuka hutan belantara dijadikan sebuah tempat pemukiman bersama keluarga dan keturunannya serta para pengikutnya, pekerjaan itu sangatlah berat karena tidak hanya membersihkan semak belukar dan pepohonan yang ada. Hewan penggangu atau hewan buas disekitarnya turut disingkirkan dari tempat itu agar aman untuk jadi tempat tinggal bahkan tidak hanya mengerahkan tenaga saja namun kekuatan batin juga dikerahkan untuk mengusir makhluk - mahluk lain yang sengaja menganggunya.
Dengan semangat kegotongroyongan dan juga dengan penuh kesabarannya, daerah yang tadinya sepi tak berpenghuni lambat laun mulai ramai bahkan mulai didengar orang lain akan adanya suatu daerah pemukiman baru yang dibuka oleh seoarang tokoh dari Mataram. Pemukiman baru itu akhirnya jadi pusat keramaian, banyak penduduk dari jauh ikut menetap di tempat tersebut dan berkembang mejadi sebuah Desa yang di pimpin oleh seorang yang di tokohkan yaitu Ki Demang, tempat tersebut diberi nama Desa SUMBERSARI.
Seiring perkembanngan zaman dari tahun ke tahun, Desa Sumbersari yang tadinya hanya sebuah pemukiman yang dihuni beberapa orang akhirnya menjadi sebuah desa yang berkembang dengan penduduknya yang semakin bertambah banyak. Demikian pula luas wilayah juga semakin bertambah luas.
Karena luasnya Desa SUMBERSARI dengan Penduduk yang semakin banyak, Ki Demang Sari selaku pemangku Wilayah tersebut sangat membutuhkan para Pembantu yaitu orang-orang yang sudah bisa dipercaya oleh Ki Demang dan dianggap mampu memimpin di wilayah masing -masing yang ditentukan oleh Ki Demang. Orang-orang kepercayaan itu diantaranya adalah Mbah Telogo Sari dan Mbah Seco.
Desa Sumbersari adalah Desa yang sangat dibanggakan oleh penduduknya, kerukunannya dan toleransinya yang sangat tinggi, kepeduliannya antar warga juga begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Warga penduduknya bekerja sebagai petani. Sawah, kebun atau tegalan sangatlah subur, berbagai tanaman polowijo tumbuh subur di desa tersebut.
Sebagai bentuk rasa sukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas karunia yang diberikan kepada Desa Sumbersari, Penduduk desa tersebut mengadakan suatu kegiatan Perayaan atau Syukuran seperti Tumpengan, Keleman, Barikan, Sedekah Bumi dan kegiatan lainnya yang intinya semuanya itu Sedekah, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang ada. Semua kegiatan adat tersebut sampai saat ini masih ada ;
Masih banyak lagi kegiatan adat dan budaya yang masih terjaga sampai saat ini, namun setelah perkembangan zaman peradaban berubah dan sistem pemerintahan semakin maju terutama pada masa zaman Penjajahan Belanda, desa-desa di sekitar Sumbersari terjadi Penggabungan Desa diantaranya Dusun Tebuseren, Dusun Kluwih, dan Dusun Karangpakis digabung menjadi satu yaitu Desa Dukuhsari, karena masing - masing Dusun atau perdukuhan adalah merupakan Dusun yang sangat ramai atau dalam bahasa jawanya Sari. Pengabungan setiap Dukuhan yang ramai / sari itu yang menjadi sebuah desa yaitu Desa Dukuhsari.
Dari kesatuan Dukuhan atau Dusun tersebut yang digabung menjadi satu kesatuan menjadi sebuah Desa Dukuhsari yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Adapun nama-nama Kepala Desa yang pernah memimpin Desa Dukuhsari sebagai berikut :
Hampir sezaman dengan Mbah Demang di Tebuseren ada seorang penyebar agama islam dari keturunan Sunan Gunung Jati dan Kesultanan BANTEN yang bernama Mbah Sambi Resik.
Konon di Kesultanan Banten terjadi kekisruhan di dalam keluarga Kesultanan Banten, satu sisi ada yang berpihak kepada Belanda dengan segala kelicikannya dan di sisi lain ada para Kerabat Kesultanan yang menentang Belanda, diantaranya yaitu Tubagus Tasmidin atau Pangeran Tohir.
Karena sikapnya terhadap Belanda selalu menentang tidak bisa diajak kerjasama maka Tubagus Tasmidin menjadi target oleh Belanda untuk dilenyapkan atau disingkirkan dari Istana. Recana jahat Belanda ini nampaknya bocor dan didengar oleh Tubagus Tasmidin. Demi menyelamatkan Istana dan menyelamatkan dirinya, maka Tubagus Tasmidin atau Pangeran Tohir lebih memilih untuk keluar dari Istana sambil menyebarkan Agama Islam di wilayah bagian Timur Pulau Jawa.
Diam-diam Pangeran Tohir pada malam yang sunyi bergegas keluar meninggalkan Istana Kesultanan Banten lalu melanjutkan pelariannya ke arah timur, berbagai halangan dan rintangan dihadapi dengan penuh semangat dan keberanian.
Setelah menempuh perjalanan jauh menyusuri lembah, ngarai dan hutan akhirnya sampai di suatu kadipaten di Solo dan menetap beberapa waktu di sana, namun keberadaan Pangeran Tohir sempat diendus oleh pihak Belanda walaupun jatidiri Pangeran Tohir disembunyikan.
Dari Solo kemudian berlari ke arah Ponorogo, di sana Pangeran Tohir sempat melakukan Riadloh Tirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT seraya mohon pertolongan dan petunjuk dari yang Maha Kuasa. Dalam semedinya Pangeran Tohir mendapatkan suara hatif yang berbunyi :
Setelah memperoleh petunjuk tersebut, Pangeran Tohir melanjutkan perjalanan melewati aliran Sungai Brantas. Tepat di suatu daerah yang namanya Gedek Mojokerto perahu itu sempat berhenti, Pangeran Tohir akan
turun dari Perahu tersebut namun Perahu itu bergerak lagi mengikuti arus sungai Brantas ke arah timur, setelah lama perahu yang ditumpangi Pangeran Tohir berjalan mengikuti arus Sungai Brantas akhirnya berhenti di suatu tempat di pinggir sungai yang banyak tanaman Tebu yang lebat dan panjang- panjang, sehingga tempat menetap tersebut diberi nama Desa Tebuseren.
Pangeran Tohir dan pengikutnya memutuskan untuk turun dari Perahu Getek yang ditumpangi selama ini, perbekalan yang masih ada juga diturunkan untuk kebutuhan sementara. Sesuai petunjuk suara hatif maka Pangeran Tohir memulai mengawali kehidupan yang baru. Pertama kali yang dilakukan Pangeran dari Banten ini adalah melakukan Riadloh Tirakatan memohon petunjuk Allah SWT. Konon Pangeran Tohir ini melakukan Puasa di bawah Pohon Kesambi hanya memakan dedaunan pohon kesambi yang jatuh di bawah pohon tersebut sehingga daun tersebut resik / bersih maka para Santri menyebutnya dengan julukan MBAH SAMBI RESIK. Setelah hasil riadloh dimulailah membangun Masjid dengan tujuan utama untuk tempat Ibadah dan di samping itu sebagai tempat mengajarkan ilmu agama islam kepada para santrinya terutama ilmu ketauhidan dan keimanan.
Pada saat membangun masjid, Mbah Sambi Resik mengerahkan kekuatan yang ada diantaranya tenaga para santri dan pengikutnya dan yang paling menakjubkan dalam pembangunan Masjid tersebut dibantu oleh bangsa jin sehingga Masjid berdiri dalam waktu yang sangat cepat, makanya masyarakat menyebutnya MASJID TIBAN.
Masjid yang dibangun tersebut mengikuti model masjid yang dibangun oleh WALISONGO, ada tiang utama yang dinamakan Tiang SOKO GURU sebanyak empat tiang dan CUNGKUP tiga tingkat yang semuanya mengandung filosofi Islam.
Adapun Masjid yang ada sekarang adalah masjid yang sudah mengalami banyak perubahan atau renovasi sehingga corak masjid aslinya sudah tak tampak. Namun sebagian peninggalan Mbah Sambi Resik masih ada sampai sekarang yang diantaranya adalah :
Dulu apabila ada orang sakit atau ada orang yang ingin suaranya merdu maka mereka akan mengambil cuilan dari kayu Beduk tersebut yang dipercaya bisa menyembuhkan suatu penyakit atau membuat suaranya merdu, namun sekarang dilarang agar keberadaan Beduk tersebut tidak rusak.


Ini juga di percaya sebagai SUMUR KERAMAT, sekarang Sumur tersebut berada dalam masjid di bawah lantai Keramik dan bisa dibuka.

Kayu ukiran untuk Cuncit yang bernilai tinggi tersebut masih ada sampai sekarang.

Ajaran MBAH SAMBI RESIK yang masih di percayai oleh masyarakat sekitar sampai sekarang adalah menjalankan syariat agama secara Tuhu dalam istilah agamanya secara KAFFAH dan menjauhi segala laku maksiat yang dilarang agama, dan apabila masyarakat sekitar melanggar ajaran tersebut maka seketika itu akan mendapatkan balasannya dan ini diyakini sampai sekarang. Ketika ada kegiatan yang berbau maksiat dan kemungkaran di Tebuseren pasti ada saja kericuhan atau hal yang tidak diinginkan terjadi dan sudah terbukti.
Masyarakat sekitarnya meyakini bahwa MBAH SAMBI RESIK adalah seorang WALIYULLOH yang mempunyai banyak Karomah. Sedangkan keturunannya banyak tersebar di beberapa daerah Mojokerto, Sidoarjo, Malang dan Pasuruan.
Untuk memperingati hari wafatnya MBAH SAMBI RESIK, warga sekitar serta tokoh masyarakat mengadakan Haul setiap tahun tepatnya di bulan MUHARROM atau ASUROH dengan berbagai acara Ziarah ke MAKAM, Santunan Anak Yatim dan Duafa, serta Pengajian Umum .
Makam MBAH SAMBI RESIK terletak di belakang Masjid Peninggalan MBAH SAMBI RESIK, dan pada hari tertentu banyak Peziarah yang datang untuk mencari/ngalaf Barokah kepada Waliyulloh Mbah Sambi Resik yang sangat berjasa dalam menyebarkan Islam di daerah tersebut.
Mudah-mudahan keberadaan MAKAM MBAH SAMBI RESIK ke depan dapat dijadikan sebagai tujuan Wisata RELIGI di Sidoarjo khususnya di Kecamatan Jabon sehingga bisa mengangkat perekonomian masyarakat setempat yang tentunya perlu adanya campur tangan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa. AMIIN.
Selain tokoh yang dianggap berjasa di wilayah Desa Dukuhsari selain MBAH DEMANG, MBAH SAMBI RESIK, MBAH TELOGOSARI /
SECO, masih ada lagi yaitu MBAH WALI yang makamnya ada di Dusun KLUWIH dan MBAH JOKO DOWO yang makamnya di Dusun Karangpakis.



Download Lampiran:
SEJARAH DESA DUKUHSARI